Resensi Buku: Ketika Rasulullah Dilanda Kegundahan
Judul : BILIK MUHAMMAD
Pengarang : AR. Baswedan
Penerbit : Shalahuddin Press, Yogyakarta
Cetakan/Th : Pertama, 1985
Tebal
Buku : 78 Halaman
Citra
kesucian terkadang membelenggu pikir dan batin untuk tidak bertanya tentang
sesuatu “Yang”, apalagi untuk jauh menganalisa.
Kenabian
dan Kerasulan Muhammad SAW pun terkadang pada umumnya ditempatkan pada posisi
yang demikian oleh umat pengikut-nya. Dikatakannya, sangat “Tabu” membicarakan
rumah tangga Rasulullah apalagi sampai pada sampai pada masalah hubungan
Rasulullah dengan Istri-istrinya. Mengapa? Karena hal ini sangat memancing
emosi dan perdebatan yang tak berkesudahan.
Tapi,
lain halnya dengan AR Baswedan, pengarang buku/novelette ini, baswedan berani
dan mampu menuturkan satu episode sejarah kenabian “BILIK-BILIK MUHAMMAD”.
Satu
episode tersebut sebetulnya merupakan hasil rekonstruksi sejarah dan imajinasi sastra sanga pengarang. Dengan dua
kekuatan penyangga tersebut novelette ini sanggup mengantar pembaca seolah-olah
menemui sebuah tarikh baru.
Novelette
yang diawali oleh tiga kata pengantar masing-masing: Dr Koento Widjojo, Buya
Hamka, KH M. Mansur ini terdiri atas dua bagian yakni: perkenalan tokoh dan
isteri-isteri nabi dan bagian kedua Bilik-Bilik Muhammad. Bagian pertama
mengupas perwatakan isteri-isteri Rasulullah Muhammad SAW. Pengarang menggambarkan
perangai isteri-isteri Rasul yang ternyata tidak berbeda dengan wanita lain,
yaitu: pencemburu, suka harta-kemewahan dan sulit diajak memahami arti
perjuangan.
Dari
pengupasannya soal wanita (isteri-isteri Rasul) Nampak ada kecenderungan sang
pengarang untuk mengatakan bahwa kodrat wanita memang demikian, pencemburu dan
suka kemewahan serta lemah daya juangnya.
Ada
kecemburuan-kecemburuan antara istri yang satu dengan yang lain yang berhasil
diungkapkan oleh pengarang buku ini lewat adegan-adegan dialog dan ekspresi mimic
isteri-isteri Nabi.
Pembaca
yang sudah terbiasa menikmati film, drama/sandiwara akan memperoleh kesegaran
cerita tarikh nabi, sebab novelette ini mempunyai pesona sastra yang lebih
imajinatif dibandingakan novelette lain yang pernah beredar.
Bagian
kedua novelette itu memaparkan kegundahan hati Rasulullah menghadapi tingkah laku isteri-isterinya yang
selalu memprotes keadilan dan kebebasan. Dalam hal ini pengarang mengatakan
bahwa isteri-isteri nabi (termasuk wanita lain penduduk sekitar) telah
menyalahkan arti guna sebuah kebebasan dan keadilan.
Dalam
menghadapi dan menyelesailan persoalan keluarga, wanita dan isteri-isterinya
Rasululaah SAW tidak menggunkan cara dipllomasi, melainkan justru beliau “menyendiri”
di sebuah bilik. Di dalam bilik inilah beliau menanti datangnya WAHYU. Apakah ini
merupakan kegagalan bagi Rasulullah SAW atau paling tidak KELEMAHAN Rasulullah?
Atau justru yang demikian itu memnunjukkan sifat “manusia” yang memang tetap
ada pada diri beliau.
Pada
bagian kedua juga diceritakan tantang kondisi ekonomi keluarga Rasul dan
masyarakat sekitarnya di saat menjelang perang dan sesudah perang. Kemudian juga
diungkapkan secara eksplisit tentang sikap Rasul yang lebih (melebihkan)
cintanya pada Aisyah daripada isteri-isteri yang lain.
Bagi
generasi muda Islam buku ini bisa dan patut ditelaah didiskusikan terutama yang
menyangkut masalah; kodrat wanita, nilai kenabian, arti cinta dan kasih sayang.
Sebab bagaimanapun perjalanan keluarga Rasulullah ada;ah refernsi bagi keluarga
Muslim dimasa berikutnya.
Pada
akhirnya pembaca buku ini akan dapat menyimpulkan bahwa pengarang ingin
menyampaikan informasi satu episode yang disaat Rasulullah dilanda kegundahan.
(Bin
Subiyanto M– Filsafat UGM YOGYA) – dimuat di Maktabah, Amanah 28 November 1986.
Komentar
Posting Komentar