Resensi Buku: Mencari Identitas Film Indonesia

Resensi Buku

Mencari Identitas Film Indonesia

Judul         : Usmar Ismail Mengupas Film (Seri ESNI No 6)

Pengarang : Usmar Ismail

Penerbit    : Sinar Harapan, Jakarta

Tebal         : 231 Halaman

 

Sejak pertama kali film dihasilkan sebagai karya teknik manusia, langsung dipakai sebagai alat komunikasi massa, populernya sebagai alat untuk bercerita. Dengan kemajuan pesat di bidang elektro teknik dan optik, terlebih pada masa sekarang, sebuah film telah menjadi kelangenan sebagian besar masyarakat dari berbagai kalangan usia maupun tingkat sosial.

Film Kontekstual?

Persoalan yang timbul di kalangan “insan film” sekarang ini adalah, film untuk apa? Paling tidak seorang artis (film) bisa menjawab bahwa sebagai karya seni, film bisa digunakan antara lain pertama, sebagai sarana bisnis/ perdagangan, kedua untuk alat komunikasi sosial dan ketiga sebagai kemajuan film itu sendiri.

Jika ditarik garis dari titik “sentral film”, maka terdapat dua garis prinsip yang esensial yang melandasi kerja insan film tersebut. Yakni; Prinsip seni untuk seni atau film untuk kemajuan film, yang kedua seni untuk masyarakat, sebagai sarana komunikasi sosial. Sedangkan seni untuk bisnis adalah langkah lanjut (efek) dari masing-masing kedua prinsip tersebut. Dikatakan demikian karena produksi film tidak bisa lepas dari “Dana” dan sekaligus perhitungan untung ruginya (halaman 99).

Kendatipun demikian seorang produsen/ sutradara/ skenario/ aktor-aktris film selalu berjalan pada salah satu dari dua “rel” tersebut.

Menurut Usmar Ismail dalam buku ini. Katanya, prinsip “seni untuk seni” berakar dari sikap Individualistis yang kemudian akan memuncak pada aliran filsafatnya Sartre yakni Eksistensialisme. Selanjutnya juga menjelaskan (pada halaman 103), jika kita dapat menerima pendapat yang mengatakan bahwa penciptaan dalam kesenian pada hakikatnya adalah pengalaman batin yang tertinggi yang dapat dialami oleh manusia dalam usahanya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, maka dapat kita terima pendapat bahwa film adalah medium kesenian yang paling dinamis dalam abad kini dan kita “wajib” menggunakan film sebagai medium. Medium apa? Tentu saja konsisten dengan hakikat seni tersebut di atas tadi. Dalam hal ini film dimanfaatkan dalam rangka mendekatkan diri pada Tuhan.

Dengan demikian maka, bila dihubungkan dengan prinsip seni untuk masyarakat (komunikasi sosial), film adalah media dakwah. Tentu saja pengertian tidak sempit  (khusus dakwah Islam), melainkan lebih luas yaitu penganjuran kebaikan dan usaha menjauhkan kemungkaran. Jadi dalam hal ini Usmar Ismail (almarhum) cenderung mengatakan film sebagai sarana (lunak) pembangunan. Film harus mampu berbicara tentang zamannya dan harus menyemangati bangsa untuk selalu maju. Fenomena demikian memberikan masukan bagi sikap “akomodatif” kita untuk mengatakan film kita film kontekstual.

Orang sering tergelincir pada tipuan pertanyaan logis, perinsipil, yakni film kita, film pembangunan atau film dakwah. Jawaban kita yang tepat adalah film dakwah pembangunan.

Kualitas Artis Film

Saat ini perfilman Indonesia begitu maju dan semarak. Bermunculan bintang-bintang baru yang ingin mengembangkan dan menyalurkan minat dan bakatnya di bidang seni akting film. Dengan berbagai jalan dan usaha seorang calon artis dengan ketekunannya dan terkadang dengan teknik “Bajing Loncat” ingin naik ke panggung FFI, dengan “menggendong” piala citra. Demikian harapan setiap artis.

Namun alangkah janggalnya jika hasrat yang menggebu itu tanpa dibekali pengetahuan seni peran yang memadai. Maka sebagai masukan awal Usmar Ismail membeberkan tentang seni peran dan selanjutnya menjelaskan syarat kesuksesan seorang aktor (hal 185-196). Pada bagian lain juga mengupas tentang teknik pembuatan film, beberapa waktu yang ideal bagi produksi sebuah film, biaya, casting dan lain-lain (hal 149-163).

Buku ini terbagi atas lima bagian, di awali dengan sebuah apresiasi pada bab yang terpisah. Secara keseluruhan pengupasan Usmar Ismail dalam buku ini dengan implisit ingin mengajak seluruh khalayak, tidak hanya insan film, untuk mencari identitas film Indonesia. sudahkah “benar-benar” terjawab oleh setiap penyelenggaraan Festival Film Indonesia.

Kehadiran buku ini adalah kehadiran buku Seri Esai Seni (ESNI) yang pertama oleh Gunawan Muhammad (Sex, Sastra, Kita), seri kedua oleh Umar Yunus (Mitos dan Komunikasi), seri ketiga oleh Umar Kayam (Seni, Tradisi, Masyarakat), seri keempat oleh Edi Sedyawati (Pertumbuhan Seni Pertunjukan) dan seri kelima oleh Satyagraha Hoerip (sejumlah masalah sastra).

Beberapa bagian dari sejumlah halaman buku telaah film ini dipenuhi gambar dan foto dokumentasi film dari masa ke masa. Setiap insan film tentu memerlukan buku ini, termasuk para apresiator, penikmat film dan khususnya pemikir film. Sebagai sarana komunikasi maka masalah film harus pula dikuasai oleh para da’i, aparat pemerintah dan pendidik. (Bin Subiyanto)

Dimuat pada Harian Suara Merdeka Semarang

Rabu, 8 Oktober 1986


Komentar

Postingan Populer