Resensi Buku: Menelusuri Sejarah Perpolitikan Islam di Indonesia

Resensi buku

Menelusuri Sejarah Perpolitikan Islam di Indonesia

Judul         : Mengapa Memilih NU

  (Konsepsi Tentang Agama, Pendidikan dan Politik)

Pengarang : KHA Wahid Hasyim

Editor       : Buntaran Sanusi, Ronny Kaloke, Kusnandar

Penerbit    : Inti Sarana Aksara Jakarta, 1985

Tebal         : 165 Halaman

Perkembangan kebudayaan berlari kencang meninggalkan masa lalu, hal ini ditandai oleh kemajuan negara-negara industri yang telah mencapai peradaban tinggi di bidang persenjataan. Negara berkembang dituntut mengembangkan peradabannya sendiri, tentu saja tanpa memutuskan benang merah tali kesejarahannya. Ia tertinggal dengan negara industri, karena belum terampil menangani peradaban di bidang persenjataan.

Abdurrahman wahid dalam pengantarnya di buku ini memetik ramalan Dr. Soedjatmoko, bahwa akan muncul 3 peradaban dunia dari negara-negara berkembang di masa depan yang tidak terlalu jauh, yakni peradaban sinetik, peradaban indik dan peradaban Islam. Yang terakhir ini akan muncul membentang dari Asia Tenggara hingga Maroko.

Ramalan Soedjatmoko tersebut tentu akan ditelan mentah, terutama bagi mereka yang secara sedikit cermat mengamati perkembangan tersebut. Sebab telah menjadi fakta, kita melihat banyak pertentangan, permusuhan antara bangsa beragama Islam menjadi hampir satu peradaban dunia.

Perjuangan Berat

Bagaimana dengan kebudayaan Islam di indonesia, nada pesimistis pernah dilontarkan oleh KHA Wahid Hasyim tahun 1951, bahwa dalam lapangan agama (Islam) masih banyak hal yang kurang sehat karena 2 sebab. Yaitu bekunya pikiran kalangan Islam. Kedua, sebab dari luar yakni kolonial, kaum muslimin bersikap non kooperatif terhadapnya, isolatif mengenai segala lapangan yang mempertentangkan mereka dengan Belanda. Selanjutnya Belanda tak membuka pintu kemajuan dan kecerdasan, akhirnya pintu diterobos kaum Kristen (hal 29). Barangkali inilah kesalahan langkah yang pertama kaum muslimin, sehingga berakibat sampai sekarang peranannya “tanggung”.

NU mengawali perjuangannya sejak tahun 1926 tidak luput dari “Politik adu domba” kaum kolonial. Ide fanatisme yang ditiupkan oleh ilmuwan barat melalui penjajahan membuat terpecahnya  kekuatan Islam, sehingga sejak saat itu muncullah Islam modern dan Islam fanatik. Pengertian “modern” terkadang diterapkan secara keliru dalam peribadatan sehari-hari. Isu “fanatisme” sering dialamatkan pada kelompok/ kaum yang kesehariannya bergumul terus dengan masjid, Al Quran, dzikir, salawatan. Dan akhirnya muncul istilah “Islam Ortodok”.

Selama 10 tahun sejak kelahirannya NU hanya memiliki 10 cabang dalam 2 kaderisasi. Ini membuat Wahid Hasyim berfikir, mempertimbangkan eksistensi NU, sekaligus kesulitan memutuskan, masuk atau tidak. (hal 102).

Katanya, mencari akademisi di NU pada saat itu, seperti mencari penjual es di tengah malam. Di tambah lagi, NU terlalu streng dan keras terhadap anggotanya dalam hal ibadah, ulamanya terlalu memonopoli organisasi.

Namun Wahid Hasyim berfikir lain dalam menghadapi kondisi NU saat itu. Menurutnya jumlah anggota dan intelektualitas bukan merupakan faktor yang penting bagi suatu organisasi politik, melainkan mentalitetlah yang utama. Wahid Hasyim berpendapat bahwa ulama-ulama dalam NU itu sebetulnya berperan sebagai penjaga pelajaran-pelajaran Islam agar tidak menyimpang.

Alasan-alasan itulah yang mendorong Wahid Hasyim masuk NU. Selama 4 tahun Wahid Hasyim menemukan alasan tersebut, sehingga tahun 1938 dia mendaftarkan diri.

Agama, Pendidikan dan Politik

Saat sekarang kaum muslimin Indonesia telah menempati berbagai pembangunan nasional. Mereka terdiri atas Islam nasionalis dan nasionalis Islam. Pertanyaannya apakah mereka mampu memberi warna dan ciri Islam dalam pembangunan. Biasanya pertanyaan ini akan dijawab: “Kita perlu langkah strategis.”

Telah nyata kita saksikan, ilmu dan teknologi menjadi milik “Barat”. Kita tentu bertanya, mampukan kaum muslimin masa kini dan masa datang melakukan seperti dulu lagi, menguasai ilmu dan teknologi? Kaum muslimin saat kini memang tidak terlalu dituntut untuk menyamai para sarjana masa lampau, seperti Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Rus dan sebagainya. Tetapi mereka dituntut untuk menafsirkan kembali penemuan-penemuan, serta menerapkannya sesuai dengan kebutuhan hakiki manusia. (XIII)

Buku bersampul hijau ini dimaksudkan memaparkan konsepsi tentang agama, pendidikan dan politik. Ini nampak tersurat dalam daftar isinya. Pada bagian pengantar Abdurrahman Wahid banyak mengungkapkan masalah kebudayaan Islam.

Sedikit disayangkan, teknik editingnya terjadi jumping, terutama antara pengantar dan isi keseluruhan buku ini, agak jauh talian masalahnya. Judul “Mengapa Memilih NU” seperti kurang akrab dengan seluruh isi dan pengungkapannya, kecuali 4 lembar yang memang khusus berisi judul itu.

Buku ini dipenuhi oleh pidato-pidato, pemikiran-pemikiran Wahid Hasyim dalam masalah agama, pendidikan dan politik. Membaca buku ini kita akan diajak oleh editor menelusuri sejarah perpolitikan Islam di Indonesia (hal 105-150).

 

Bin Subiyanto, Yogyakarta

Dimuat pada SUARA MERDEKA tanggal 27 November 1985


Komentar

Postingan Populer