Resensi Buku: Planologi Islam



Judul Buku    : Kota Berbenteng Tujuh
Pengarang      : Fakhruddin Hijazi
Judul Asli       : The City Of Seven Citadels And The Gift Of Muhammad
Penerjemah    : Meth Kieraha
Penerbit          : YAPI, Bandar Lampung
Cetakan/Th    : Pertama, 1408 H - 1987
Tebal              : 79 Halaman
SELAMA berabad-abad filsafat  telah memperbincangkan apakah individu lebih utama daripada masyarakat. Haruskah kita membangun masyarakat dengan menempatkan individu dalam kerangkanya, ataukah membangun para individu secara terpisah-pisah kemudian dari situ menciptakan fenomena yang kompleks.
Kini, di saat terdapat berbagai macam aliran pemikiran, filsafah dan ideologi timbul dua aliran yang bertentangan. Yang satu konsep individualism, sedang yang lain paham pemilikan bersama. Kelompok pertama percaya bahwa individu lebih utama daripada masyarakat dan masyarakat muncul dari para komunitas individu.
Madzhab ini diikuti para sofis, Socrates, penganut Epicurus, Cicero dan grup Scolatik. Selanjutnya pada abad 17-19 juga bermunculan tokoh seperti: John Lock, Adam Smith, Burke, hume, Montesqieu, Voltair, Rousseau, John Stuart Mill, Washington, Hamilton, Jefferson.
Paham superior individu kemudian melahirkan gagasan pemikiran absolute yaitu Kapitalisme. Di kutub lain muncul antiesanya berupa pemilikian bersama, totaliruanisme dan akhrnya bermuara ke sosialisme.
Pertentangan ideology dan falsafah di atas oleh buku ini dianggap perlu “ditengahi”, tentau saja di dalam kerangka membangun masyarakat ideal. Fakhruddin Hijazi, pengarang buku ini, mengajukan analisa masyarakat ideal (yang Islami).
Alat pembuka analisa ialah Surat Al Kautsar, surat terpendek dalam Al Qur’anul Karim, yang oleh pengarang ditafsirkan bahwa surat tersebut memuat tiga kebenaran makna yaitu: aqidah, amal dan kepemimpinan. Dan bertolak dari interpretasi tersebut, maka menurutnya, membangun masyarakat adil makmur semestinya dilandasi dan didukung oleh benteng aqidah
Dalam buku ini diterjemahkan sebagai keyakinan mendasar akan kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, yang serta merta harus diikuti pandangan Monoteisme, yakni system tunggal, sumber utamanya adalah Tuhan Yang Maha Esa.
Sehingga pengarang megatakan bahwa aqidah tersebut haruslah merupakan infra struktur dari system kepercayaan masyarakat.
Sedangkan bentang yang kedua ialah amal, hal ini karena Islam pada hakekatnya menentang stagnasi, kebekuan, kebodohan, pengangguran serta Islam selalu menjaga komitmen dan tanggung  jawab.
Dengan demikian masyrakat Islam (masyarakat ideal yang Islami) selalu dinamik.
Selain kedua benteng tersebut pengarang juga memaparkan lima benteng lain yang sangat diperlukan untuk membangun masyarakat yakni; benteng kepemimpinan, benteng penangkis, pencemar asing, benteng jihad, benteng penyucian, benteng sholat dan doa (halaman 11-23).
Meskipun buku ini menunjuk kota Mekkah sebagai model masyarakat, tetapi pada pengembangannya, pengarang cenderung mengidealismekan tatanan masyarakat luas (Negara), karena nilai-nilai yang diungkap bersifat universal, dan totalitas meliputi seluruh aspek, tidak hanya aspek religi-kepercayaan, tetapi juga politik, budaya, social dan bahkan arsitektur, teknik dan sains (hal. 47).
Kelebihan buku ini ialah mampu menyajikan Planologi Islam secara terperinci dengan tujuh benteng.
(Bin Subiyanto M) – dimuat di Warta NU Jakarta Pusat No.9 Tahun ke-4 November 1988.

Komentar