Resensi Buku : Kabar dari Puspitek Serpong
Judul : Beberapa Pemikiran Tentang; Strategi Transformasi Industri Suatu Negara Sedang Berkembang.
Pengarang : Prof Dr Ing BJ Habibie, Men Ris Tek RI
Penerbit : Gema Insani Press, Jakarta
Cetakan/Th : Pertama, 1986
Tebal Buku : 80 Halaman
Harga Baru : Rp. 1.200
STATEMEN
menristek Habibie tentang pentingnya teknologi yang sekaligus mengususlkan agar
pendidikan di Indonesia sekarang menitik beratkan pada segi iptek, jangan
terlalu ipsk (ips dan kemanusiaan), telah mengundang reaksi dari dari pelbagai
pihak, termasuk para cendekiawan-ahli ilmu sosial.
Apapun
tanggapan kita terhadap ‘kiprah’ habibie saat ini, selayaknya kita harus lebih
dulu memahami pemikiran-pemikiran dasrnya secara utuh lebih dulu. Dalam hal
trasformasi industri, habibie telah menyusun dasar-dasar pikirnya dalam buku
ini.
Kebangsaan
Pengertian
kebangsaan menurut habibie jauh lebih luas dari pada sekedar pemilikan
persyaratan-persayaratan formal kemerdekaan politik. Kebangsaan di sini
ditandai oleh kemampuan suatu bangsa untuk berdiri secara ekonomis,
keberhasilannya mempertahankan integritas politiknya. Katanya, untuk memenuhi
kebutuhan sendiri serta meningkatkan nilai tambah diperlukan penggalian sumber
daya alam. Sedemikian sehingga diperlukan ilmu dan teknologi.
Menurut
habibie, pengembangan ilmu dan teknologi berserta penerapannya diperlukan
prinsip-prinsip. Dan yang penting, katanya, prinsip itu tidak hanya bergayut
pad aide das sollen saja, namun harus tetap memperhatikan apa yang berlaku dan
kenyataan realita yang kita temukan, das Sein. Dalam hal inlah habibie Nampak
lebih realistic, paling tidak tetap berpijak pada kondisi obyektif.
Kunci
Pembangunan Bangsa
Konsep
habibie yang realistic obyektif itu, justru mendorong maju, tentu saja terutama
di bidang teknologi. Pernyataan tersebut terungkapkan secara lengkap pada bab :
prinsip-prinsip dasar 9hal 13-16) dalam buku ini.
Lima
prinsip dasar strategi transformasi industri tersebut adalah: pertama,
pentingnya pendidikan dan latihan di bidang ilmu dan teknologi yang relevan
dengan pembangunan bangsa. Kedua, konsep yang jelas tentang Negara yang ingin
dibangun. Ketiga, pengalihan (transformasi) ilmu dan teknologi harus sesuai
dengan problem-problem kongkrit yang dihadapi bangsa Indonesia.
Keempat,
bangsa Indonesia harus sanggup mengembangakan teknologi sendiri tidak
mengimpor. Kelima, yang akhirnya, kemajuan teknologi yang dicapai harus sanggup
bersaing secara internasional.
Untuk
mengamalkan prinsip dasar tersebut, menurut dia perlu tahap-tahap transformasi
yang terdiri atas: tahap pengguanaan teknologi, integrasi, pengembangan
teknologi dan inovasi-inovasi. Dan dengan wahana program transformasi industry
yang memenuhi criteria yakni dapat diterapkan, yang produktif akan mampu
bersaing secara internasioanl (halaman 30).
Dalam
buku ini habibie menguraikan delapan industry secara agak terinci, dari
industry pesawat terbang, kapal, kereta api, elektro-telekomunikasi, energy,
rekayasa, pertanian dan hankam (halaman 37-69).
Dikatakannya,
pada akhirnya usaha kita menggiring bangsa agraris menjadi Negara industry,
diperlukan scenario transformasi, yang hal ini lebih tepat diserahkan pada
puspitek serpong. Dari serponglah dimulai langkah membangun masyarakat industry
Indonesia, demikian kabar dari puspitek serpong.
Sebelum
habibie mengakhiri pembicaraannya, ia menegaskan bahwa kunci pembangunan bangsa
Indonesia adalah peningkatan keterampilan ilmiah dan teknologi.
Menurut
habibie, pendidikan sangat penting, memang, tapi pendidikan tidak dapat berdiri
sendiri (halaman 71).
Penerbit
buku ini agaknya ingin menunjukkan reputasi keilmuan BJ Habibie, karena pada
bagian akhir tertera riwayat hidup Menteri ristek dan teknologi sang genius,
kelahiran pare-pare ini. Sejumlah jaatan dan pengalaman caliber dunia, telah
diraihnya.
Pembaca
tentu sepakat, karier seseorang disamping mengangkat reputasi juga memupuk
otoritas seseorang di bidangnya, dan inilah yang mebuat banyak orang berdecak
bila mengikuti ‘polah’ habibie. Jika diperhatikan, memang konsepsi habibie yang
terungkap dalam buku ini dinafasi oleh semangat kebangsaan, tetapi itu semua
baru satu dimensi pembangunan.
Untuk
itu, tiak perlu tergesa mengatakan bahwa, kita harus mencetak banyak “habibie”
baru secara banyak, bangsa Indonesia juga butuh “fuad hasan”, “Soedjatmoko” dan
prototipe lain. Demikian pula, tidak bias dipungkiri, prototipe habibie
dibutuhkan Indonesia. (Bin Subiyanto M)* - dimuat di Harian Suara Merdeka, Kamis Legi 20 November 1986.
Komentar
Posting Komentar