Sabdatama Penenang Batin

 Resensi Buku

Sabdatama Penenang Batin


Judul             : Sabdatama

Pengarang     : Rama Sudi Yaimana

Penerbit         : PT Intan Pariwara, Klaten

Cetakan         : Pertama / 1989         

Tebal             : 103 Halaman

 

Pada kata pengantar dengan bahasa Jawa penyusun telah mengatakan bahwa buku format saku ini berisi “Lelungidan” atau wise word yang dalam bahasa Indonesia disebut kata-kata mutiara. Oleh karena merupakan kumpulan “sabda” yang “utama” maka layak disebut “sabdatama”.

Momentum kehadiran buku ini sangat tepat karena saat ini sebagian masyarakat sudah sering mengeluh, mengalami kejenuhan terhadap deru pembangunan yang membisingkan telinga batin, sehingga perlu rest untuk relek, bahkan lagi butuh koreksi diri barangkali langkahnya "kemajon”. Maka, kiranya 631 mutiara kata yang tersusun ini dapat menjadi tempat mengadu.

Kekurangannya

Menanggapi hidup keseharian yang rutin seseorang kadangkala sempat merenung dan bertanya: Apa yang kucari. Tidak mustahil manusia lupa daratan melakukan usaha hidup yang asal hasil dan untuk menumpuk harta,tetapi setelah berlebihan si pemilik menjadi ruwet hidupnya. Sikap serakah ini disindir oleh peribahasa India yang berbunyi “Lobhah paapasya laaraniku,” terjemahannya: “Srakah iku sumbering kasasangsaran” (hal 74).

Sebaliknya buku ini juga mengkritik para pemalas yang kerjanya tidur, lewat peribahasa Tibet yang telah dijawakan “Sing turu ora keduman” tepat untuk menggelitik orang jawa –pedagang- yang sering berangkat pasar kelewat siang, rezeki pun menjauh (hal 73).

Rama Sudi Yatmana nampaknya berusaha melengkapi Sabdatama ini dengan membubuhkan catatan kaki hampir di setiap halaman untuk memuaskan pembaca, baik keterangan bahasa maupun tulisan aslinya, seperti Bahasa sankskerta, Inggris, Arab, India, Belanda, Alquran dan Hadits.

Kendati pun demikian, sebetulnya penyusun masih bisa menambah sangat banyak lagi dengan mutiara-mutiara Arab (Mahfudhot) yang dapat diperoleh di perpustakaan pondok pesantren -  pondok pesantren ataupun fakultas sastra Arab yang terdekat. Dengan demikian insya Allah buku sabdatama ini akan lebih banyak isinya. Apabila penyusun ingin lebih memadatkan lagi, kiranya perlu pula berkunjung ke fakultas filsafat guna menambah perbendaharaan “wise word” dari para filosof Yunani, Cina, India, Islam, filosof barat, modern dan filosof dewasa ini.

Bagai Burung Peniru

Kelebihan buku ini ialah kepraktisannya. Oleh karena itu tepat untuk dimiliki para praktisi sosial terutama penceramah, mubalig, pendidik, penatar atau bahkan dalang yang ingin persegar isi pembicaraanya di depan massa. Tetapi harap berhati-hati, karena bisa jadi amat lincahnya berkutat dengan kata-kata mutiara, maka tak ubahnya seperti burung peniru belaka. Asal mencomot, tidak melihat konteksnya dulu. Oleh karena itu dalam buku ini juga dikutip mutiara latin yang telah dijawakan “Lha kok kayak bethet, kabeh bisa diwangsuli” (hal 35).

Ketekunan penyusun mengumpulkan mutiara hikmah dari pustaka Jawa (Solo dan Jogja) serta dari India, Cina, Arab, Latin, yang semuanya telah di-Jawa-kan membuat buku ini punya nilai lebih dibanding buku saku - buku saku tentang mutiara hikmah yang pernah beredar di pasaran masa lalu. Dan harus diakui bahwa “Sabdatama” ini merupakan satu-satunya kumpulan mutiara kata yang lumayan padat dibanding buku-buku sebelumnya.

Membaca habis dan merenungkan kandungan Sabdatama ini batin akan menjadi tenang, menjadikan sebagai orang bijak. Paling tidak bukan golongan orang yang “rumangsa bisa” melainkan termasuk manusia yang “bisa rumangsa” sesuai nasihat Pak Harto, Presiden RI. (Bin Subiyanto M)

Dimuat pada Harian Suara Merdeka Semarang

MINGGU, 22 OKTOBER 1989 – HALAMAN VIII

 

Resensi Buku

Sabdatama Penenang Batin

Judul             : Sabdatama

Pengarang     : Rama Sudi Yaimana

Penerbit         : PT Intan Pariwara, Klaten

Cetakan         : Pertama / 1989         

Tebal             : 103 Halaman

 

Pada kata pengantar dengan bahasa Jawa penyusun telah mengatakan bahwa buku format saku ini berisi “Lelungidan” atau wise word yang dalam bahasa Indonesia disebut kata-kata mutiara. Oleh karena merupakan kumpulan “sabda” yang “utama” maka layak disebut “sabdatama”.

Momentum kehadiran buku ini sangat tepat karena saat ini sebagian masyarakat sudah sering mengeluh, mengalami kejenuhan terhadap deru pembangunan yang membisingkan telinga batin, sehingga perlu rest untuk relek, bahkan lagi butuh koreksi diri barangkali langkahnya "kemajon”. Maka, kiranya 631 mutiara kata yang tersusun ini dapat menjadi tempat mengadu.

Kekurangannya

Menanggapi hidup keseharian yang rutin seseorang kadangkala sempat merenung dan bertanya: Apa yang kucari. Tidak mustahil manusia lupa daratan melakukan usaha hidup yang asal hasil dan untuk menumpuk harta,tetapi setelah berlebihan si pemilik menjadi ruwet hidupnya. Sikap serakah ini disindir oleh peribahasa India yang berbunyi “Lobhah paapasya laaraniku,” terjemahannya: “Srakah iku sumbering kasasangsaran” (hal 74).

Sebaliknya buku ini juga mengkritik para pemalas yang kerjanya tidur, lewat peribahasa Tibet yang telah dijawakan “Sing turu ora keduman” tepat untuk menggelitik orang jawa –pedagang- yang sering berangkat pasar kelewat siang, rezeki pun menjauh (hal 73).

Rama Sudi Yatmana nampaknya berusaha melengkapi Sabdatama ini dengan membubuhkan catatan kaki hampir di setiap halaman untuk memuaskan pembaca, baik keterangan bahasa maupun tulisan aslinya, seperti Bahasa sankskerta, Inggris, Arab, India, Belanda, Alquran dan Hadits.

Kendati pun demikian, sebetulnya penyusun masih bisa menambah sangat banyak lagi dengan mutiara-mutiara Arab (Mahfudhot) yang dapat diperoleh di perpustakaan pondok pesantren -  pondok pesantren ataupun fakultas sastra Arab yang terdekat. Dengan demikian insya Allah buku sabdatama ini akan lebih banyak isinya. Apabila penyusun ingin lebih memadatkan lagi, kiranya perlu pula berkunjung ke fakultas filsafat guna menambah perbendaharaan “wise word” dari para filosof Yunani, Cina, India, Islam, filosof barat, modern dan filosof dewasa ini.

Bagai Burung Peniru

Kelebihan buku ini ialah kepraktisannya. Oleh karena itu tepat untuk dimiliki para praktisi sosial terutama penceramah, mubalig, pendidik, penatar atau bahkan dalang yang ingin persegar isi pembicaraanya di depan massa. Tetapi harap berhati-hati, karena bisa jadi amat lincahnya berkutat dengan kata-kata mutiara, maka tak ubahnya seperti burung peniru belaka. Asal mencomot, tidak melihat konteksnya dulu. Oleh karena itu dalam buku ini juga dikutip mutiara latin yang telah dijawakan “Lha kok kayak bethet, kabeh bisa diwangsuli” (hal 35).

Ketekunan penyusun mengumpulkan mutiara hikmah dari pustaka Jawa (Solo dan Jogja) serta dari India, Cina, Arab, Latin, yang semuanya telah di-Jawa-kan membuat buku ini punya nilai lebih dibanding buku saku - buku saku tentang mutiara hikmah yang pernah beredar di pasaran masa lalu. Dan harus diakui bahwa “Sabdatama” ini merupakan satu-satunya kumpulan mutiara kata yang lumayan padat dibanding buku-buku sebelumnya.

Membaca habis dan merenungkan kandungan Sabdatama ini batin akan menjadi tenang, menjadikan sebagai orang bijak. Paling tidak bukan golongan orang yang “rumangsa bisa” melainkan termasuk manusia yang “bisa rumangsa” sesuai nasihat Pak Harto, Presiden RI. (Bin Subiyanto M)

Dimuat pada Harian Suara Merdeka Semarang

MINGGU, 22 OKTOBER 1989 – HALAMAN VIII

 

Komentar

Postingan Populer